Kamis, 20 Maret 2025, setelah Salat Tarawih sekira pukul 20.30 WIB, dilaksanakan pembukaan iktikaf di Masjid Nurul Iman Alasombo. Peserta iktikaf terdiri dari 20 santri MTsTQ Qoryatul Qur'an dan 6 mahasantri Ma'had Aly Qoryatul Qur'an. Acara ini dihadiri oleh Ustaz Muhammad Negus, Ustaz Sigit Kurniawan, Ustaz Lathif Mukhlisin, dan Ustaz Muhamad Rizal Habib.
Ustaz Muhammad Negus membuka sesi iktikaf dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur karena telah dipilih menjadi bagian dari generasi ghuroba (orang-orang asing yang berpegang teguh pada agama di tengah zaman yang sulit). Beliau menyampaikan bahwa menjadi bagian dari generasi ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.
Selanjutnya, Ustaz Muhammad Negus mengingatkan kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan masjid dan masyarakat. Salah satu nasihat beliau yang berkesan adalah:
“Le, nek arep nakal, saiki mumpung jek dadi santri. Nek suk pas dadi ustaz nek desa, aja lagi nakal. Ketika masih menjadi santri, hukuman yang diterima mungkin hanya berupa surat peringatan. Namun, jika di desa, hukuman yang diterima bisa berupa hukuman sosial atau bahkan massa.”
![]() |
Ustaz Negus berikan arahan pada santri iktikaf |
Beliau menekankan pentingnya menjaga adab dan sikap. Santri harus selalu menunjukkan perilaku yang baik, sopan, dan menjadi teladan bagi masyarakat sekitar. Jika masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan baik, kita harus mengimbanginya dan berusaha lebih baik lagi.
Ustaz Muhammad Negus mencontohkan semangat warga yang tetap bersemangat tadarus hingga malam hari di akhir Ramadan, bahkan sampai pukul 11 atau 12 malam. Beliau mengatakan, “Jangan sampai kita kalah dengan mereka.”
Ustaz Muhammad Negus juga mengingatkan tentang godaan hati yang terkadang muncul ketika ingin beriktikaf atau memperbanyak ibadah. Beliau mengajak kita untuk tetap ikhlas dalam beribadah dan tidak terpengaruh oleh godaan atau rasa malas.
Beliau juga menyoroti kebebasan dalam bermain smartphone yang dapat mengganggu ibadah. Sebagai santri, kita harus pandai mengatur waktu, termasuk dalam menggunakan gawai. Ini adalah bagian dari pendidikan adab agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan sia-sia.
Menurut Ustaz Muhammad Negus, santri seharusnya memiliki ciri khas dalam berpakaian, seperti memakai kopiah, baju koko, sarung, atau sorban. Namun, yang lebih penting dari penampilan adalah sikap dan perilaku.
Seorang santri harus menyapa orang dengan ramah, rajin mengaji, berakhlak baik, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Santri sejati adalah mereka yang menjadi profil bagi umat, menjadikan Qoryatul Qur'an (penghafal Al-Qur'an) sebagai kebanggaan dan tujuan hidup.
Beliau juga mengingatkan untuk tidak melewatkan malam Lailatulqadar yang lebih baik dari seribu bulan. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ustaz Muhammad Negus mengisahkan sebuah cerita Israiliyat dari zaman Nabi Nuh AS. Diceritakan ada seorang ibu yang mengeluhkan kematian anaknya yang berusia 300 tahun. Nabi Nuh kemudian mengingatkan bahwa umat akhir zaman akan memiliki umur yang jauh lebih pendek, hanya sekitar 60 tahun. Kisah ini menggambarkan bagaimana nafsu sering kali membuat kita lalai dalam beribadah, karena merasa waktu masih panjang.
Beliau menegaskan bahwa kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam ayat “Fastabiqul Khairat” (berlomba-lombalah dalam kebaikan). Pada zaman Nabi, umat yang mengencangkan sarung mereka lebih memilih ibadah daripada tidur. Ini adalah teladan yang harus kita ikuti.
![]() |
Santri peserta iktikaf |
Terakhir, Ustaz Muhammad Negus mengingatkan pentingnya menjaga identitas pesantren di tengah arus tren budaya Barat. Meskipun dunia luar berkembang pesat, santri harus tetap teguh dalam nilai-nilai agama dan adab pesantren. Tren pesantren harus tetap eksis dan berkembang, tidak kalah dengan tren dunia yang cenderung mengarah pada kehidupan materialistik dan kurang memperhatikan sisi spiritual.
“Jangan sampai semangat kita meraih pahala di akhir Ramadan ini kalah dengan antusiasme masyarakat sekitar.”
Semoga iktikaf yang dilaksanakan para santri PPTQ Qoryatul Qur'an diberikan kelancaran. Mendapat keberkahan dari Allah. Memberikan manfaat bagi umat. Aamiin.
Reporter: Ustaz Muhammad Rizal Habib
Posting Komentar untuk "Pembukaan Iktikaf Qur'ani Ramadan 1446 H Santri PPTQ Qoryatul Qur'an di Masjid Nurul Iman Alasombo"