Menjelang liburan Idulfitri 1446 H, para ustaz dan ustazah PPTQ Qoryatul Qur’an dari berbagai komplek melakukan silaturahmi dan pamitan kepada Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I, pada Selasa pagi, 18 Maret 2025.
Acara ini berlangsung di kediaman Ustaz Setyadi di Dukuh Sidowayah RT 01 RW 06 Ngreco, Weru, pada pukul 06.15 WIB. Hadir sejumlah asatiz senior maupun muda, di antaranya Ustaz Muhammad Rosyid, Ustaz Abdul Mu'in, Ustaz Heksa Ahmad C, Ustaz Khairul Syauqi Zamzami, Ustaz Rio Maryono, Ustaz Muhammad Rifa’i, dan lainnya, serta para ustazah.
Mewakili para asatiz putra, Ustaz Abdul Mu'in menyampaikan tujuan sowan pagi ini kepada Direktur Umum, di antaranya untuk menguatkan silaturahmi. Kemudian, memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan selama bertugas di pesantren. Memohon doa restu dan arahan untuk liburan mudik ke kampung halaman.
Sementara itu, mewakili asatizah putri, Ustazah Nurul juga menyampaikan permohonan maaf jika ada kesalahan dalam mengemban amanah di pesantren, baik disengaja maupun tidak. Beliau juga meminta arahan dan nasihat dari Direktur Umum serta berharap mendapatkan rida untuk berlibur.
![]() |
Ustaz Setyadi memberikan arahan dan pesan sebelum para asatiz liburan |
Menanggapi pamitan ini, Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I, mengapresiasi silaturahmi yang dilakukan oleh para asatiz. Beliau bersyukur bahwa tradisi pamitan sebelum liburan masih terjaga di pesantren ini.
“Mari kita jaga tradisi dan amal baik yang sudah membudaya, yang menjadi bagian dari adab mulia. Ini luar biasa. Kebiasaan ini memang bukan keharusan, tidak berdosa kalau ditinggalkan, tetapi ini adalah adab dan kemuliaan,” ujar Ustaz Setyadi.
Beliau juga menanggapi permintaan maaf yang disampaikan oleh Ustaz Abdul Mu'in dan Ustazah Nurul. Menurut Pak Direktur, setiap orang pasti memiliki kesalahan, dan saling meminta serta memberi maaf adalah adab yang baik.
“Tak perlu menyimpan dendam dan benci di hati. Yang merasa sakit itu yang marah, maka tak perlu dipelihara, karena itu hanya akan merugikan diri sendiri. Maka, sudah sepatutnya saling memaafkan,” pesan beliau.
Dalam kesempatan ini, Ustaz Setyadi juga memberikan sejumlah nasihat kepada para asatiz terkait dengan amanah di pesantren. Ia mengingatkan kembali tentang konsep guru wajib, guru sunah, guru mubah, guru makruh, dan guru haram yang pernah disampaikan oleh Ustaz Abu Hasanuddin saat ifthar sebelumnya.
Selain itu, beliau menekankan pentingnya kebersihan komplek pesantren sebagai tanggung jawab bersama. “Bersih itu bukan hanya sekadar kotorannya tidak terlihat, tetapi harus benar-benar dibersihkan,” beliau menegaskan.
Terkait amanah di pesantren, Ustaz Setyadi mengingatkan bahwa sebagai SDM pesantren, setiap asatiz harus mempertanggungjawabkan tugas yang diemban. “Dalam menjalankan amanah, seringkali ada singgungan dan tidak sesuai harapan. Maka kita harus berusaha memahami, bukan menuntut dipahami.”
![]() |
Suasana pamitan di ruang tamu Ustaz Setyadi |
Beliau juga menegaskan bahwa pesantren sudah memiliki visi, misi, dan ghoyyah yang jelas, sehingga setiap individu yang berada di dalamnya harus menyesuaikan diri dengan ketetapan tersebut. “Bukan pesantren yang harus menyesuaikan dengan kita. Jika antum berusaha mewujudkan visi misi pesantren, insyaAllah kehidupan antum juga akan baik.”
Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa menjaga amanah harus dilakukan dengan menghindari sikap egois. “Menyalahkan pesantren setiap kali ada masalah adalah tindakan yang tidak tepat. Ini bukan perkara sepele, karena bisa menjadi faktor munculnya masalah besar.”
Pamitan ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan dan adab yang dijunjung tinggi di lingkungan pesantren. Semoga perjalanan para asatiz menuju kampung halaman masing-masing diberkahi dan membawa manfaat bagi mereka serta pesantren ke depannya.
Posting Komentar untuk "Bagian dari Tradisi Baik, Asatizah Pamitan Liburan Idulfitri 1446 H kepada Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an"