Sabtu, 15 Maret 2024. Segenap sumber daya manusia (SDM) PPTQ Qoryatul Qur’an beserta keluarga masing-masing berkumpul di Masjid Widad El Fayez, Asemlegi Gabeng, dalam acara Majelis Pembinaan SDM.
Kegiatan ini berlangsung sebelum sesi kajian ifthar (buka bersama), dengan menghadirkan Ustaz Abu Hasanuddin dari Pondok Pesantren Ibnu Katsir Jember sebagai pembicara utama.
Acara yang dimoderatori oleh Wadir Dakwah PPTQ Qoryatul Qur’an Ustaz Bambang Wahyudi ini dibuka dengan sambutan dari Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I.
Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran guru di pesantren bukan hanya sebagai penyimak hafalan, tetapi sebagai murabbi, pendidik sejati yang membimbing santri menuju rida Allah.
Selain itu, beliau juga menyoroti pentingnya menjaga hubungan harmonis antarsesama tenaga pendidik serta menekan ego masing-masing demi sinergi dalam mencapai visi dan misi pesantren.
![]() |
Ustaz Abu Hasan memberikan nasihat pada SDM Qoryatul Qur'an |
Dalam sesi pembinaan, Ustaz Abu Hasanuddin menyampaikan bahwa meskipun jarak antara kita dan tempat pertama kali Islam diturunkan begitu jauh, namun berkat kecintaan Allah dan Rasul-Nya, umat Islam di berbagai belahan dunia tetap mendapatkan hidayah.
Oleh karena itu, para guru di pesantren harus mengambil peran penting dalam menyalurkan hidayah ini kepada santri dengan maksimal. Beliau kemudian mengajak para peserta untuk mengevaluasi diri melalui konsep tingkatan guru dalam perspektif hukum Islam.
Konsep tingkatan guru dalam perspektif hukum Islam, yakni (1) Guru Wajib: Kehadirannya dinantikan, ketidakhadirannya dicari, kepergiannya dirindukan, (2) Guru Sunah: Kehadirannya menyenangkan, ketidakhadirannya tidak masalah.
Lalu (3) Guru Mubah: Kehadirannya dan ketidakhadirannya sama saja, tidak memberikan pengaruh, (4) Guru Makruh: Ketidakhadirannya disyukuri, kehadirannya membuat tidak nyaman, dan (5) Guru Haram: Kehadirannya ditakuti, kepergiannya disyukuri.
“Cobalah tengok diri kita, apakah kita sudah menjadi guru yang dirindukan santri atau justru yang tidak diharapkan?” tanya beliau kepada para peserta.
Beliau menekankan bahwa untuk meningkatkan kualitas sebagai pendidik, guru harus selalu memperbaiki diri, terbuka terhadap kritik, dan melakukan evaluasi terhadap kebiasaannya.
Guru yang baik harus mampu mengajar dengan totalitas hingga tuntas, serta menerapkan prinsip pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara dalam konteks pesantren: Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat), Tutwuri handayani (di belakang memberikan dorongan).
Selain itu, Ustaz Abu Hasanuddin mengingatkan bahwa seseorang yang tidak mau menghormati ilmu akan seperti iblis yang enggan sujud kepada Nabi Adam AS, karena merasa lebih tinggi derajatnya. Kesombongan dalam dunia pendidikan justru akan menjauhkan seorang guru dari keberkahan ilmu dan keberhasilan dalam mendidik santri.
Majelis ini memberikan pencerahan bagi para tenaga pendidik di PPTQ Qoryatul Qur’an. Dengan semangat memperbaiki diri dan terus belajar, diharapkan para guru dapat mencapai tingkatan terbaik sebagai seorang murabbi, bukan sekadar penyampai materi, tetapi pembimbing yang membawa santri menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Posting Komentar untuk "Majelis Pembinaan SDM PPTQ Qoryatul Qur’an bersama Ustaz Abu Hasanuddin: Meningkatkan Kualitas sebagai Guru"